Kekayaan Intelektual Komunal: ’Unity in Diversity. Harmoni dalam Keberagaman”
12.22.2020

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham (Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia menyelenggarakan KIK Talks yang dilaksanakan sebagai upaya untuk diseminasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) ke semua lapisan masyarakat, melalui jaringan online (daring) zoom selama 2 hari (15-16/9).

KIK Talks bertujuan untuk memberikan pengenalan dan pengetahuan tentang KIK sehingga masyarakat adat, litbang, praktisi, perguruan tinggi maupun masyarakat luas dapat mengenal dan mengetahui tentang KIK.

Ragam lingkup KIK terdiri dari Ekspresi Budaya Tradisional (EBT), Sumber Daya Genetik (SDG) dan Pengetahuan Tradisional (PT) serta Indikasi Geografis (IG) KIK Talks hari pertama dipandu oleh Deddy Corbuzier, seorang host televisi dan podcast/artist/youtuber yang memiliki pengalaman panjang dalam mengangkat tema-tema menarik, dan akan menghadirkan pembicara dari para pemangku kebijakan, yaitu:
1. Dr. Freddy Harris – Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM
2. Dr. Hilmar Farid – Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Menurut Hilmar, Indonesia baru mencatat segelintir kekayaan intelektual di Tanah Air, contohnya pada survei 2018 ada 8224 jenis kesenian dan pengetahuan tradisionalnya sekitar 700-an.

“Jadi kalau menurut hemat saya itu baru the tip of the iceberg saja sebetulnya. Di bawahnya masih banyak, luar biasa kekayaan yang kita miliki. Belum sifatnya yang tangible seperti cagar budaya,” ujar Hilman.

Pencatatan ini menurut keduanya sangat penting sehingga Indonesia memiliki peta kekayaan intelektual. Selanjutnya, kekayaan intelektual itu bisa dikelola dan memberikan dampak pada ekonomi masyarakat.

Indonesia memiliki ragam Kekayaan Intelektual Komunal yang sangat banyak. Banyak KIK yang kemudian diklaim oleh negara asing seperti Rasa Sayange, Reog Ponorogo, hingga Tari Pendhet.

KIK Talks menjadi salah satu kampanye bagi Indonesia dalam upaya untuk melindungi diri dari pengakuan, pencurian, atau pembajakan oleh negara lain. Terlebih khususnya bagi 77 karya budaya Indonesia yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (intangible heritage) oleh Indonesia di tahun 2013, di antaranya termasuk budaya Betawi berupa: Ondel-Ondel, Topeng dan Lenong (termasuk musik gambang kromong dan tarian/ronggeng pembuka di dalamnya sebagai satu bagian/paket yang tak terpisahkan) serta Pantun (sebagaimana digelar di setiap seremoni ritual palang pintu). Tahun ini diharapkan KIK menjadi prioritas sosialisasi di Kantor Wilayah, Dinas dan Masyarakat Adat. KIK dipandang sebagai salah satu kekayaan Indonesia yang unggul dari negara lain, sebab Indonesia kaya akan budaya dan sumber daya alam. DJKI menargetkan 120 pencatatan KIK baru pada 2020.

Hari kedua KIK Talks dipandu oleh Stefano Thomy, dengan menghadirkan dua pembicara, yaitu Dra. Dede Mia Yusanti, MLS (Direktur Paten, DTLST, dan RD, Kementerian Hukum dan HAM), dan Wulan Tilaar (Expert, Holistic Beautifier, Direktur Martha Tilaar Spa dan Puspita Martha International Beauty School).

 

 

Sumber:

https://dgip.go.id/djki-gelar-kik-talks-bahas-keanekaragaman-hayati-dan-budaya-indonesia