Mona Lohanda
01.18.2021

Sejarawati Mona Lohanda (lahir di Tangerang, 4 November 1947) meninggal Sabtu, 16 Januari pukul 22.30 di RS Sari Asih Karawaci, Tangerang dalam usia 73 tahun, akibat serangan jantung/drop diabetes. Pengarsip dan akademisi asal Indonesia serta mantan kurator Arsip Nasional Indonesia ini adalah salah satu kunci otoritas utama info dan data tentang sejarah Batavia dan komunitas Tionghoa-Indonesia.
 
Alumnus 1975 Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini, sebelum awal studi (1972) telah bekerja di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di tahun 1971. Setelah pensiun pada 2012, beliau tetap aktif sebagai narasumber.
Selanjutnya ia meneruskan pendidikan di mancanegara dengan melanjutkan studi pascasarjana di Departement of History, School of Oriental and African Studies di University of London, Mona pun kemudian mengenyam pendidikan S3 untuk gelar Ph.D di Universitas Katolik Nijmegen, Belanda.
Dedikasinya ke bidang sejarah membuat Mona semakin dikenal luas di tingkat nasional dan internasional sebagai sejarawan dan arsipatos dan menerima berbagai penghargaaan, antara lain Nabil Award (2010) dan sebagai cendekiawan berdedikasi dari Harian Kompas (2012) serta Bakrie Award (2016). 
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional yang terdiri atas sejumlah pakar dari berbagai disiplin ini dikenal aktif dan banyak berpikiran tajam.
Disebut sebagai “Pencetak Puluhan Doktor Sejarah”, Mona tercatat banyak menulis artikel dan buku, di antaranya The Kapitan Cina of Batavia, 1837-1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society (Djambatan, 1996) dan Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia (Masup Jakarta, 2007).
 
Bagi seorang Mona Lohanda, sejarah  itu mempelajari akar sebuah negara. 
Sejarah masa lalu bisa mengungkap asal usul sebuah peristiwa. Dari yang dia teliti dari zaman penjajahan Belanda, terungkap berbagai kesalahan Indonesia sehingga bisa ‘mudah’ ditaklukkan Belanda.
“Belajar arsip membuat saya bisa mengetahui apa sebab negeri sebesar Indonesia bisa dikuasai Belanda yang luasnya hanya sebesar Provinsi Jawa Barat”.
Itu sebabnya ia mempelajari sejarah masuknya VOC ke Indonesia. Dari bacaan, baru diketahui Belanda bisa menjajah Indonesia karena pemerintah masing-masing kerajaan saat itu belum tahu konsep kesatuan. Sejak dulu lautan atau maritim ditelantarkan, lebih mementingkan pertanian.
Banyak kesalahan, karena Indonesia tidak belajar dari masa lalu dan sejarah.
Misalnya, perlunya membagi willayah berdasarkan kesatuan budaya dan bahasa. Semisal Tangerang masuk ke Batavia karena orang Tangerang berbahasa Melayu dan suka nonton lenong.

Dr. Julianti Parani periset budaya Betawi menyebut mendiang sebagai soulmate sehubungan acapkali berbagi pengalaman. Dimulai dari FSUI Sejarah, ANRI dan sering sama-sama ikut berbagai konferensi Arsip, penelitian Betawi, Jali Jali Journal dan masih banyak lagi. Penulis budaya Betawi lainnya, Prof. Dr. Ninuk Kleden Probonegoro juga menceritakan pengalamannya dibantu mendiang dalam riset budaya Betawi, khususnya arsip particuliere landerijen, dalam bahasa Belanda kuno. Menurut  Prof. Yasmine Zaki Shahab, S.S., M.A., Ph.D. antropolog Indonesia khusus pemerhati budaya Betawi, “Kita kehilangan seseorang yang banyak jasanya untuk sejarah negeri ini”.
Jasad Mona Lohanda disemayamkan di Rumah Duka Boen Tek Bio Karawaci.
Selamat Jalan, Mona Lohanda. Rest in Peace.
Sumber: WebBetawi IKJ-WA Group @17/1-’21, wikipedia, kompasiana
Foto: HidupKatolik.com