Pelestarian Budaya Betawi antara Kenyataan dan Harapan
01.06.2021
29.12.2020 | -
-

Pengurus Wilayah Perkumpulan Pemuda Cinta Tanah Air Provinsi DKI Jakarta mengadakan diskusi akhir tahun melalui webinar atau daring pada Rabu lalu (29/12-2020), mengangkat tema “REFLEKSI 5 TAHUN PERDA NO 4 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN BUDAYA BETAWI, ANTARA KENYATAAN DAN HARAPAN “.

Menghadirkan Prof. Jimly anggota DPD RI Provinsi DKI Jakarta sebagai keynote speaker yang melihat bahwa Perda No 4 Tahun 2015 tentang pelestarian budaya betawi masih sangat umum dan terlihat seperti kurang fokus. Dalam kesempatan tersebut Prof Jimly Asshiddiqie menitikberatkan bahwa kebudayaan sangatlah penting bagi suatu daerah dan juga suatu bangsa.

Seharusnya Dinas Kebudayaan lebih intens dan fokus kepada program–program yang mengena kepada budaya Betawi. Kebijakan mengenai keBetawian seperti seolah – olah dilandasi dengan dasar kasihan, demikian menurut Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, Beky Mardani.

Soni Sumarsono selaku mantan Plt Gubernur DKI Jakarta pun menyambut pernyataan Ketua LKB, memang secara konstitusional sudah sangat jelas, sesuai amanat UU maka pemerintah daerah harus mengalokasikan pembiayaan terhadap program–program kebudayaan lokal.

Perhatian pemerintah merupakan amanat konstitusi seperti termuat dalam UU 29/2007 tentang Ibukota Pasal 26(6) dan diperkuat lagi dengan UU no 5/2017 tentang pemajuan kebudayaan dan juga Perda 4/2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Jadi sudah seharusnya dan menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk mendukung penuh seluruh program kebudayaan di daerah itu sendiri.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana menyambut positif dan siap untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan siapapun, yang tujuannya sama–sama untuk bukan hanya sekedar melestarikan, membina budaya, namun juga memajukan dan terus berinovasi dalam hal budaya terutama budaya betawi.