Kampung Luar Batang
01.08.2021

Berlokasi di Penjaringan, Jakarta Utara, dan letaknya terhimpit terusan Pelabuhan Sunda kelapa dan kawasan perumahan elite Pluit ini, Kampung Kuar Batang terkenal karena terdapat makam keramat yang ada di dalam masjid kawasan tersebut.

Salah satu yang membuat kawasan itu terkenal adalah masjidnya. Bahkan banyak pejabat tinggi di Indonesia kerap datang ke Masjid Jami Luar Batang pada malam atau dinihari.

Menurut riwayatnya, makam keramat tersebut merupakan makam Sayid Husein, yaitu seorang penyebar agama Islam yang berilmu tinggi. Ulama yang bernama lengkap Sayid Husein bin Abubakar bin Abdullah al-Aydris ini juga diyakini sebagian besar orang sebagai keturunan Nabi Muhammad.

Tepatnya pada 1736 M, seorang pemuda Arab bernama Habib Husein bin Abubakar Alaydrus seorang Arab asal Migrab-Hazam, Hadhramaut, hijrah
ke Indonesia dan tinggal di kawasan dermaga Pelabuhan Sunda Kelapa serta kemudian dia membangun sebuah surau di sana.

Saat itu Sunda Kelapa adalah sebuah kota lama. Pada waktu itu termasuk bandar yang paling ramai di Pulau Jawa.
Puluhan tahun Sayid Husein berdakwah di kota-kota pesisir utara Pulau Jawa, dari Batavia sampai Surabaya. Dirinya wafat pada 24 Juni 1796 (17 Ramadhan 1169 Hijriyah) dan dimakamkan di luar masjid yang dibangun di tahun yang sama. Saat Masjid Luar Batang mengalami renovasi dan diperluas pada 1827, makam keramat Sayid Husein menjadi berada di dalam ruangan masjid.

Konon khabarnya, nama “Luar Batang” sendiri tidak lepas dari peristiwa ajaib yang terjadi pada jenazah Sayid Husein. Saat keranda, atau kurung batang dalam istilah Betawi, tempat jenazah Sayid Husein dibuka, jenazahnya raib dari kurung batang tanpa dilihat seorang pun.

Adolf Heuken, dalam buku berjudul Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (2007) memaparkan peristiwa tersebut. “Suatu lembaran yang dibagi-bagi di Masjid Luar Batang menceritakan: Beliau meninggal pada 27 Juni 1756 dalam usia 40 tahun. Jenazahnya diusung dalam kurung batang hanya ditandu ke kuburan Tanah Abang seperti seharusnya. Namun, sesampainya di kuburan, jenazah habib tiada lagi dan ternyata sudah kembali ke rumahnya. Hal ini terjadi berulang kali. Maka, disepakati bahwa jenazah ini dikebumikan di rumahnya yang karenanya disebut Luar Batang,” demikian papar pastor berkebangsaan Jerman dalam bukunya tersebut.

Namun dalam buku Oud Batavia yang ditulis Frederik de Haan diungkapkan bahwa kawasan ini disebut Luar Batang karena terletak di luar batang penghalang yang diletakkan melintang di muara Ci Liwung. Penghalang tersebut terbuat dari batang kayu dan diperkuat dengan besi.

Batang kayu yang disebut boom, kata dalam bahasa Belanda ini sudah tertera pada peta yang diperkirakan dibuat pada 1623. Jika perahu ingin melintasi penghalang tersebut, mereka wajib membayar bea masuk. Kawasan yang berada di luar penghalang inilah yang kemudian disebut dengan Luar Batang atau dalam bahasa Belanda disebut buiten de boom.

Rachmat Ruchiat, dalam buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta (2018) juga menjelaskan, nama Luar Batang sudah tertera dalam peta yang dibuat pada 1623. Namun, bukan tertulis dengan “Batang” dalam bahasa melayu, melainkan “Batang” dalam bahasa Belanda: “Boom”.

Meski begitu, tak heran, publik luas lebih tertarik pada kisah ajaib raibnya jenazah seorang ulama sehingga makamnya mulai menarik banyak peziarah. Peziarah pun tak hanya didominasi oleh mereka yang berasal dari pelosok Nusantara, melainkan juga datang dari luar negeri, seperti Tiongkok, Brunei Darussalam, hingga Belanda dan Timur Tengah. Saking banyaknya, penjualan benda keramat di lokasi makam dapat mencapai 8 ribu gulden dalam setahun.

Seorang serdadu Belanda, H.C.C Clockener membuktikan kemasyhuran mesjid tersebut. Dalam buku berjudul Batavia Awal Abad 20 (2004), ia berjalan menjelajahi Masjid Luar Batang bersama seorang pemandu lokal bernama Abdullah. Dirinya menceritakan jikalau Masjid Luar Batang merupakan tempat yang paling dihormati oleh umat Islam. Clockener pun merasa puas karena diperbolehkan dapat melihat-lihat keadaan dalam dan luar masjid. Apalagi saat dirinya datang, masjid sedang dalam keadaan terjaga dan sangat rapi. “Bangunan itu memiliki lebih dari satu atap dengan tiang-tiang penyangganya yang dari luar terlihat indah.” Sejak perjalanan itu, ia menjuluki Masjid Luar Batang sebagai tempat ibadah besar bagi umat Islam di Hindia-Belanda.

Seiring perkembangan zaman, Masjid Luar Batang terus berkembang dalam lingkup “Oud Batavia”, dan menjadi salah satu situs bersejarah dari 12 Jalur Destinasi Wisata Pesisir.

*

Luar Batang memang merupakan kampung tertua di Jakarta. Ragam literasi mencatat Kampung Luar Batang sudah berdiri sejak 1630-an, beberapa tahun setelah Jayakarta ditaklukkan Gubernur Jenderal VOC –yang menjabat dua kali dalam periode 1619-1623 dan 1627-1629– Jan Pieterszoon Coen pada 1619.

Dulunya kampung ini adalah sebuah rawa-rawa. Namun, lama-kelamaan rawa itu tertimbun lumpur dari Kali Ciliwung setelah dibangunnya Muara Baru. Rawa-rawa ini kemudian ditimbun untuk dijadikan tempat tinggal penduduk. Tanah terbentuk dari endapan lumpur di muara sungai, sehingga tidak padat. Air tanahnya mengandung garam, sehingga tidak bisa digunakan untuk air minum.

VOC sering mendatangkan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan dan kastil di Batavia. Para pekerja di lokasi itu berdatangan dari berbagai daerah dan ditempatkan di Kampung Luar Batang.

Alwi Shahab dalam buku berjudul Saudagar Baghdad dari Betawi (2004) menyebutkan bahwa pada awalnya dahulu Luar Batang menjadi tempat persinggahan sementara para awak –tukang perahu— pribumi yang ingin masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ketika itu, penguasa VOC menerapkan peraturan yang tidak mengizinkan perahu-perahu pribumi masuk ke alur pelabuhan pada malam hari. Demikian juga tidak boleh keluar pelabuhan di waktu yang sama. Selain itu, seluruh perahu yang keluar masuk harus melalui pos pemeriksaan. Pos ini terletak di mulut alur pelabuhan dan pada tempat itulah diletakkan batang (kayu) yang melintangi sungai guna menghadapi perahu-perahu keluar masuk pelabuhan sebelum diproses, demikian menurut Alwi.

Karenanya, setiap perahu pribumi yang akan masuk harus diperiksa terlebih dahulu muatannya. Sedangkan perahu-perahu pribumi yang tak dapat masuk pelabuhan harus menunggu di luar wilayah Luar Batang beberapa hari, sampai ada izin masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.

Biasanya, selama menunggu, sebagian awak perahu turun ke darat sembari membangun pondok-pondok untuk ditinggali sementara. Lama-kelamaan, seiring dengan kesohornya Batavia sebagai pusat perdagangan dunia, para awak perahu yang awalnya hanya tinggal sementara waktu kemudian mulai menetap. Permukiman ini pun mulai dikenal dengan nama Kampung Luar Batang.

Kondisi kumuh di permukiman yang luasnya 16,5 hektar itu sudah berlangsung sejak awal masa VOC. Pasar yang ada kala itu dan kini dikenal dengan nama Pasar Ikan baru dibangun pada 1846. Lokasi Pasar Ikan ini dulunya merupakan laut.

Kondisinya semakin kumuh ketika urbanisasi besar-besaran terjadi pada 1950-1960 akibat kerusuhan di sejumlah daerah. Dalam periode itu terjadi beberapa pemberontakan seperti DI/TII dan Kahar Muzakar.

Penduduk kampung terdiri dari orang asli Betawi dan pendatang dari Jawa Barat, Madura, Jawa Tengah, Bugis dan Makassar.

Nama Kampung Luar Batang tiba-tiba menjadi sorotan sejak Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat akan menertibkan kawasan yang terletak di Penjaringan, Jakarta Utara tersebut.

Ahok ingin mengembalikan kawasan Luar Batang seperti semula, sehingga lebih indah menghadap langsung pantai dan menjadi pasar cagar budaya heksagonal.

Namun, rencana penertiban ini mendapat perlawanan dari warga setempat.

Sejarawan JJ Rizal menyebutkan bahwa Masjid Luar Batang sudah menjadi tempat ziarah, bukan hanya bagi penduduk lokal, tapi juga internasional. Bukan hanya muslim tanah air, tapi juga orang Tionghoa dan orang Eropa.

Dikutip dari:

https://m.liputan6.com/lifestyle/read/2478825/sejarah-dan-asal-usul-di-balik-nama-kampung-luar-batang

https://m.liputan6.com/news/read/2477966/habib-husein-dan-riwayat-mistis-kampung-luar-batang

https://voi.id/memori/5957/sejarah-kampung-luar-batang-dari-persinggahan-abk-hingga-destinasi-ziarah

Sumber foto: jakarta.co.id