01.04.2021
Toponimi

Bandar Udara Internasional Kemayoran muncul dalam salah satu episode cerita dalam komik Tintin yakni Penerbangan 714 ke Sydney, dengan menampilkan terminal bandar udara dan menara pemandu lalu lintas (ATC tower). Gambar yang ditampilkan sesuai dengan kondisi sebenarnya oleh pengarangnya, Herge, seorang komikus Belgia 40 tahun lalu


(foto: bandara Kemayoran tempo doeloe & komik TinTin)

Jauh sebelum didirikan bandar udara, nama “Mayoran” muncul pada tahun 1816 di dalam iklan Java Government Gazette sebagai “tanah yang terletak di dekat Weltevreden, Batavia”. Tanah di daerah tersebut merupakan sebuah tanah yang dimiliki oleh Komandan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Isaac de l’Ostal de Saint-Martin (1629–1696). Saat itu pangkat pria asal Prancis tersebut adalah ‘mayor’ dan dari sinilah asal-usul nama Kemayoran muncul. Nama ini pertama kali dipopulerkan ketika muncul di surat kabar Java Government Gazette pada 24 Februari 1816. Publik pun menyebut kawasan milik Isaac yang berada di dekat hunian utama warga Eropa (Weltevreden) itu sebagai ‘tanah mayor’.


(foto: lukisan sosok Isaac)

Setelah itu, daerah tersebut dikenal dengan sebutan “Kemayoran”. Hingga awal abad ke-20, daerah Kemayoran masih berupa rawa, areal persawahan, serta pemukiman penduduk. Warga yang tinggal di sini merupakan campuran dari orang-orang yang berasal dari Kerajaan Pajajaran, Demak, Mataram hingga para imigran yang berasal dari negara lain. Ketika masa kolonialisasi Belanda, warga yang tinggal di Kemayoran pun semakin beragam dengan penambahan orang-orang Tionghoa, India, Sumatera, dan Indonesia Timur. Mereka didatangkan untuk bekerja dalam proyek pengembangan Batavia serta di militer untuk membantu mempertahankan Pemerintahan Hindia Belanda dari serangan pasukan Kesultanan Gowa dan Kesultanan Mataram.

Kemudian pada tahun 1934, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah Bandar udara di daerah tersebut dan diresmikan pada tanggal 8 Juli 1940. Menjadikan Kemayoran sebagai Bandar Udara Internasional pertama di Indonesia. Pengelolaan Bandar udara ini oleh pemerintah Hindia Belanda dipercayakan kepada Koningkelije Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapij sampai masa pendudukan Jepang.

Tanah-tanah di Kemayoran pun dijual oleh Pemerintah Hindia Belanda demi membiayai proyek pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Para pembelinya merupakan orang-orang yang berasal dari Belanda, Tionghoa serta Arab. Mereka pun mendapatkan gelar tuan tanah yang memiliki kekuasaan mengatur warga yang tinggal di tanah mereka layaknya budak. Ketika sistem perbudakan dihapuskan, para warga tersebut pun menjadi petani yang bekerja untuk para tuan tanah.

Ketika masuk periode kolonialisme Belanda yang modern di Batavia, pihak pemerintah Hindia Belanda pun memulai proyek baru. Saat itu tanah-tanah yang sebelumnya dimiliki pribadi, dibeli oleh pemerintah termasuk kawasan Kemayoran, Petojo, Jatibaru, Cideng, Kramat hingga Tanah Tinggi. Wilayah-wilayah itu ditujukan untuk orang-orang menengah ke bawah.

Selain warga pribumi dan etnis lainnya, banyak orang-orang keturunan Belanda tinggal di area Kemayoran. Saat Perang Dunia II berakhir, para mantan tentara Belanda juga memutuskan untuk tinggal di sana sehingga warga setempat pun memunculkan panggilan baru untuk warga ‘bule’ dan keturunannya tersebut sebagai Belanda Kemayoran.



Link teks & foto:
https://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Udara_Internasional_Kemayoran
https://pingpoint.co.id/berita/asal-usul-nama-kemayoran-jakarta
https://voi.id/memori/7507/asal-usul-kemayoran-kesohor-berkat-mayor-belanda
https://id.wikipedia.org/wiki/Isaac_de_l%27Ostal_de_Saint-Martin
https://www.setneg-ppkk.co.id/profil/sejarah