Tradisi Palang Pintu
11.26.2020

Belum ada bukti sahih sejak kapan tradisi palang pintu bermula. Akan tetapi konon kabarnya tokoh Betawi si Pitung (1874-1903) ternyata telah menjalani tradisi ini saat hendak memperistri Aisyah, putri jawara ‘Macan Kemayoran’, Murtadho.

Palang Pintu merupakan tradisi yang menjadi bagian dari upacara pernikahan masyarakat Betawi menggabungkan seni beladiri dengan seni sastra pantun.

Tradisi ini dikenal sejak zaman dahulu, hingga sekarang. Tradisi Palang Pintu Betawi memang ‘kagak ada matinye’, hingga kini masih tertanam kuat pada masyarakat Betawi – Megapolitan.

Setiap pengantin pria akan mendapat tantangan dari pihak mempelai perempuan. Dalam tradisi ini, jawara yang bertindak sebagai perwakilan mempelai laki-laki dan perempuan akan saling menunjukkan kemampuan memperagakan gerakan silat dan melontarkan pantun satu sama lain.

Kejawaraan ini ditandai sejak prosesi penyambutan yang diawali dengan bunyi petasan renceng yang dikalungkan di salah satu jawara rombongan mempelai pria. Suara yang dihasilkan dari mercon itu kemudian sedikit diademkan dengan iringan lantunan shalawat sebagai tanda bahwa sang pengantin pria beserta rombongan keluarga besar sudah tiba di lokasi acara pernikahan.

Tradisi palang pintu menyimbolkan ujian yang harus dilalui mempelai laki-laki untuk meminang pihak perempuan. Jawara dari daerah asal laki-laki harus bisa mengalahkan jawara yang berasal dari daerah tempat tinggal perempuan. 

Sementara itu, berbalas pantun dimaknai sebagai manifestasi dari diplomasi. Palang Pintu juga berfungsi untuk mendekatkan hubungan antarkampung dan antarkeluarga.

Umumnya perangkat yang dibawa dalam acara tersebut hanya kembang kelapa dan golok bethok untuk atraksi silat serta membawa tim pemusik rebana kecimpring. Kostum yang digunakan juga tidak jauh berbeda seperti halnya pada acara perkawinan yaitu baju koko/sadariah dengan celana kolor panjang dan baju ujung serong pada beberapa orang pemain (petugas) palang pintu saja.

Pada tradisi ini, terdapat beberapa orang yang melakukan proses tersebut. Terdiri atas dua jagoan dari pihak perempuan, satu jagoan dari pihak laki-laki, satu orang juru pantun dari masing-masing pihak, tiga pembaca shalawat dustur, satu pembaca sike, dan tim musik yang memainkan alat musik Rebana Kecimpring untuk mengiringi mempelai laki-laki.

Syarat utama mempelai laki-laki mempersunting mempelai perempuan ada dua, yaitu bisa mengalahkan jawara dan pintar dalam mengaji. Laki-laki jika berada di rumah berkewajiban untuk pandai mengaji agar bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Sementara di luar, laki-laki haruslah pandai bersilat agar bisa melindungi keluarganya. 

Tahapan-tahapan inti dalam menjalankan proses palang pintu, yaitu shalawat dustur, beklai, dan lantun sike.

Rombongan pengantin laki-laki membawa kembang kelapa karena semua bagian pohon kelapa yang ada dapat digunakan mulai dari akar hingga buahnya. Sehingga dengan adanya kembang kelapa tersebut bertujuan agar ketika sudah menjadi kepala rumah rumah tangga yang sah dapat berguna dari segala hal baik keluarga maupun di masyarakat.

Roti buaya adalah salah satu yang utama sebagai seserahan kepada mempelai perempuan. Hal yang menandakan mempelai laki-laki telah siap menikah dan akan setia selamanya, seperti filosofi buaya yang dianggap setia karena tidak pernah kawin lagi meskipun pasangannya mati. 

Roti buaya juga menyimbolkan keberanian dari mempelai laki-laki yang akan melibas semua tantangan yang ada sebagai kepala rumah tangga. Buaya dianggap adalah hewan yang berani melawan arus sebagai simbol berani yang menerjang apapun.

Kegiatan ini terjadi ketika iring-iringan ‘tuan raja mude‘ (panggilan untuk pengantian pria) pada sore hari hendak masuk ke rumah ‘tuan putri‘ (pengantin perempuan). Ketika hendak memasuki rumah, rombongan dicegat wakil tuan rumah. Menghadapi hadangan ini, rombongan pengantin pria bersikap ‘kagak mau kalah tetap bekutet’.

Juru pantun perempuan akan berkata: “Kalau Abang mau melamar harus bisa penuhi syaratnya. Ibarat kata, Bang…: Buah atep buah kenari, burung kutilang di puhun kemboje, kala abang belum mantep kemari, mendingan pulang aje.”

Juru pantun mempelai pria kemudian seolah terbakar amarah dan buru-buru membalas lantang: “Beli areng ke Sukabumi, pohon jambu aye kebonan, udeh terlanjur datang kemari, biar kate jadi abu aye lakonin.”

Jawara dari masing-masing mempelai kemudian maju dan unjuk kebolehan dalam duel. Pemenangnya tentu saja jawara dari mempelai pria. Lazimnya lewat dua sampai tiga jurus, hingga pihak mempelai wanita mengatakan: “Cukup, cukup.”

Meski begitu, mempelai pria belum diperbolehkan untuk masuk. Pihak mempelai wanita mempertanyakan sejauh mana ilmu agama dari mempelai pria yang kemudian dijawab dengan pembacaan ayat dari kitab suci al-Qur’an.

Setelah itu, kedua keluarga besar mempelai langsung saling bersalaman dan berpelukan. Pihak keluarga besar mempelai wanita mempersilakan rombongan mempelai pria memasuki pintu kediaman mempelai perempuan.


 

Sumber:

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Palang_Pintu
https://muda.kompas.id/baca/2018/07/04/mengenal-palang-pintu-tradisi-orang-betawi/
https://www.google.com/amp/s/www.goodnewsfromindonesia.id/2019/10/29/palang-pintu-tradisi-turun-temurun-suku-betawi/amp
https://www.google.com/amp/s/megapolitan.okezone.com/amp/2019/02/15/338/2018647/hikayat-palang-pintu-tradisi-betawi-yang-sarat-makna
https://voi.id/memori/7458/tradisi-palang-pintu-bukti-sakralnya-pernikahan-orang-betawi
https://seputartangsel.pikiran-rakyat.com/khazanah/amp/pr-14397108/palang-pintu-tradisi-masyarakat-betawi-yang-kagak-ade-matinye
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/n71ou65
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/travel/read/2018/03/09/190000427/apa-itu-tradisi-palang-pintu-yang-sambut-pemain-legendaris-liverpool-
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/melihat-lebih-dekat-tradisi-palang-pintu-di-festival-palang-pintu
https://www.google.com/search?q=sejarah+tradisi+palang+pintu+betawi&oq=Tradisi+Palang+Pintu&aqs=chrome.4.0l7j69i61.5772j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8
https://megapolitan.okezone.com/read/2019/02/16/338/2018752/ini-makna-petasan-dalam-tradisi-palang-pintu-betawi
https://www.hipwee.com/wedding/intip-uniknya-tradisi-pernikahan-adat-betawi-siapa-tahu-jodohmu-orang-jakarta-asli/
https://nuansagrafity.files.wordpress.com/2015/01/img_0034.jpg
http://gegenie.blogspot.com/2017/02/upacara-adat-perkawinan-betawi.html
http://alienco.net/wp-content/uploads/2015/10/contoh-foto-pernikahan-depok-jakarta-adat-betawi-palang-pintu.jpg
https://www.tribunnewswiki.com/2019/07/10/roti-buaya