Bang Ali
11.28.2020

Ali Sadikin (1927-2008), seorang pemuda anggota staf Waperdam (Wakil Perdana Menteri) Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan dilantik secara langsung oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta pada Kamis, 28 April 1966 pukul 10.00 di Istana Negara. Ali dipandang cakap dan memenuhi syarat-syarat menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Ali Sadikin adalah gubernur yang sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Dii bawah kepemimpinannya Jakarta mengalami banyak perubahan karena proyek-proyek pembangunan buah pikiran Bang Ali, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet.

Lahir di Sumedang, 7 Juli 1927, Letnan Jenderal Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) ini mengemban tugas besar mengelola ibukota Indonesia. Ali Sadikin dikenal merakyat dan disapa akrab oleh penduduk kota Jakarta dengan panggilan Bang Ali, sementara istrinya, Nani Sadikin, seorang dokter gigi, juga akrab disapa dengan sebutan Mpok Nani.

Bang Ali juga mencetuskan pesta rakyat setiap tahun pada hari jadi kota Jakarta, 22 Juni. Bersamaan dengan itu berbagai aspek budaya Betawi dihidupkan kembali, seperti topeng Betawi dan lenong, kerak telor, ondel-ondel dan sebagainya. Di bawah kepemimpinannya pula diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta. Selain itu, Bang Ali juga menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang saat ini lebih dikenal dengan nama Jakarta Fair, sebagai sarana hiburan dan promosi dagang industri barang dan jasa dari seluruh tanah air, bahkan juga dari luar negeri.

Ia juga sempat memberikan perhatian pada kehidupan para artis lanjut usia di kota Jakarta yang saat itu banyak bermukim di daerah Tangki, sehingga daerah tersebut dinamai Tangkiwood.

Sarana transportasi di Jakarta berhasil diperbaiki dengan mendatangkan banyak bus kota dan menata trayeknya, serta membangun halte (tempat menunggu) bus yang nyaman.

Di bawah pimpinan Bang Ali, Jakarta berkali-kali menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) yang mengantarkan kontingen DKI Jakarta menjadi juara umum selama berkali-kali. Beberapa gelanggang remaja juga dibangun untuk berbagai aktivitas positif para remaja (ekstrakurikuler).

Institusi Budaya dan Pusat Kesenian sebagai Oase di tengah Ibukota

Sebelum diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Soekarno, Ali Sadikin merupakan seseorang yang telah menduduki kursi Menteri, Menko dan Deputi Menteri Urusan Ekuin. Karena kedudukannya itu, ia banyak berkeliling ke berbagai kota mancanegara dan melihat adanya pusat kesenian di berbagai negara modern.

Berbekal petualangannya itu, maka ketika beliau menjabat sebagai Gubernur DKI timbullah inspirasinya untuk membangun pusat kesenian di Jakarta yang diungkapkannya awal tahun 1968, saat meresmikan pemakaian kembali Balai Budaya yang merupakan tempat berkumpulnya seniman-seniman Jakarta di Jl Gereja Theresia. Bang Ali cinta akan kesenian dan dekat dengan seniman pada saat itu. Bang Ali melihat Balai Budaya sebagai satu-satunya wadah para seniman Indonesia di DKI Jakarta saat itu, tak lagi cukup untuk menampung para seniman untuk berkreativitas dan menuangkan gagasan seninya, maka terpikirkan oleh beliau untuk membangun suatu wadah baru yang lebih besar dan mampu untuk menampung berbagai hasil karya seni para seniman Indonesia di DKI Jakarta.

Bang Ali melakukan pembangunan budaya. Dia menyadari ketika pertama kali memerintah pada 1966 penduduk Jakarta masih 3,4 juta jiwa dan dari jumlah itu sekitar 78 persen adalah pendatang. Karena Jakarta adalah ibukota negara maka di tempat ini harus bisa diwujudkan seni budaya seluruh Indonesia. Oleh karena itu Pemerintah DKI Jakarta membentuk BKS (Badan Kerjasama Seni dan Budaya).

Ali Sadikin dianggap benar-benar negarawan yang memahami arti dari berkesenian. “Sejak zaman kuno hingga kini, belum pernah ada pusat kesenian yang membiayai dirinya sendiri. Kalau bukan pemerintah, dana masyarakat yang harus membiayainya. Bukan senimannya sendiri.” Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Ali Sadikin pada Salim Said (“Dari Gestapu ke Reformasi”, Mizan, 2013).

Atas anjuran dari 3 seniman muda Jakarta: Ramadhan KH, Ajip Rosidi, dan Ilen Surianegara, Ali Sadikin setuju untuk membangun suatu wadah baru yang sesuai untuk menampung ide-ide dan kreativitas para seniman. Para seniman ‘dikumpulkan’ di sebuah tempat dengan satu tujuan yakni: memajukan seni dan kebudayaan. Pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada seniman untuk memikirkan perencanaan dan konsep selanjutnya. Bang Ali lantas memerintahkan stafnya untuk mencari sebuah kawasan yang ideal sebagai Pusat Kesenian Jakarta.

Pada periode 1968 tersebut, secara intens terjadi pertukaran pikiran soal seni dan budaya terjadi di Kantor Harian KAMI, tempat sastrawan Goenawan Mohamad bekerja dan biasa disinggahi seniman bersama budayawan lain dan aktivis 66. Juga pertemuan selanjutnya di pondokan Salim Said (wartawan Angkatan Bersenjata) Jl. Matraman Raya 51, yang juga sering dikunjungi oleh Arifin C. Noer (wartawan di Pelopor Baru), Goenawan Mohamad dan Ed Zoelverdi (fotografer dan wartawan harian KAMI) juga Soekardjasman (wartawan Sinar Harapan). Saat itu, konsep semuanya diketik oleh Arifin C. Noer di kamar kerja Salim Said dan diserahkan oleh Christianto Wibisono kepada Bang Ali.

Bang Ali lantas memerintahkan stafnya untuk mencari sebuah kawasan yang ideal sebagai Pusat Kesenian Jakarta.
Sebuah tempat seluas kurang lebih 8 hektar di Jalan Raden Saleh akhirnya menjadi sejarah keberadaan sebuah pusat kesenian di ibukota. Lahan luas tersebut menggunakan pintu gerbang di Jalan Cikini bernomor 73, kawasan Menteng, bekas lahan milik pelukis Raden Saleh yang dijadikan Kebon Binatang Cikini (dipindahkan ke Ragunan). Pusat Kesenian Jakarta tersebut dinamai sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM), mengambil nama seorang komponis anak Menteng, Ismail Marzuki (1914 – 1958). Inilah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Tempat nongkrong terbaru bagi para seniman baik dari Pasar Senen atau Balai Budaya. Karena perpecahan ideologi politik, para seniman yang kehilangan tempat “pertemuan” menggunakan TIM sebagai wadah baru bagi para seniman Indonesia di DKI Jakarta.

Kawasan TIM mulanya dikenal sebagai ruang rekreasi umum Taman Raden Saleh (TRS). TRS saat itu ramai dikunjungi warga yang ingin sekadar berekreasi untuk melepas penat. Di sekitar itu, sudah ada dua gedung bioskop, yaitu Garden Hall dan Podium. Kompleks TIM pun semakin ramai dengan kehadiran Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) di tahun 1970 yang kini menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tepatnya di tanggal 26 Juni tak lama setelah peringatan Hari Ulang Tahun DKI Jakarta (22 Juni). Nama IKJ pun lekat dengan TIM, ditambah kehadiran sejumlah bangunan pendukung lainnya seperti, Planetarium, Graha Bakti Budaya, Pusat Sastra HB Jassin, Cineplex 21 serta aneka jajanan di kawasan kuliner di dalam serta sekitar TIM. Di dalam kompleks ini seluruh lembaga di dalam Pusat Kesenian Jakarta berkantor, antara lain Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Unit Pelaksanaan Pusat Kesenian Jakarta, Perpustakaan, Galeri Cipta I & II serta unit pemadam kebakaran.

Ratusan hingga ribuan mahasiswa IKJ makin meramaikan kehidupan kesenian dan kebudayaan di area pusat kesenian ini. Nama IKJ menjadi semakin menjulang karena semakin banyak alumni bahkan para seniman yang terlibat sejak awal pendiriannya adalah seniman berkualitas dunia. Kontribusi IKJ sangat besar bagi kehidupan kreativitas Nusantara. IKJ pun dikenal sebagai satu-satunya perguruan tinggi seni terlengkap yang banyak membuahkan para seniman dengan produk-produk karya seninya yang mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di panggung dunia. Bang Ali acapkali berkunjung ke IKJ selalu menyemangati para sivitas akademika.

Jelang Akhir Hayat Bang Ali

Salah satu kebijakan Bang Ali yang kontroversial adalah mengembangkan hiburan malam dengan berbagai klab malam, mengizinkan diselenggarakannya perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota, serta membangun kompleks Kramat Tunggak sebagai lokalisasi pelacuran.

Masa jabatan Ali Sadikin berakhir pada tahun 1977. Setelah berhenti dari jabatannya sebagai gubernur, Ali Sadikin tetap aktif dalam menyumbangkan pikiran-pikirannya untuk pembangunan kota Jakarta dan negara Indonesia. Letnan Jenderal KKO (Purn.) Ali Sadikin (80 tahun) meninggal di Singapura pada hari Selasa, 20 Mei 2008, meninggalkan IKJ sebagai warisan yang luar biasa berharga bagi keberadaan para seniman dan budayawan Indonesia di mata dunia, tak sebatas ibukota. Warisan tak ternilai yang perlu dirawat dan dikembangkan selalu, demi keharuman nama bangsa dan negara. Salah satu impiannya adalah IKJ memiliki pusat studi dan kajian budaya Betawi sebagai upaya merawat dan mengembangkan tradisi dan kearifan lokal menjadi jatidiri kekuatan bangsa Indonesia yang majemuk dan bersatu maju di dunia internasional. Semoga segera terwujud, amin.

Terima kasih, Bang Ali!

 

Sumber:
https://ikj.ac.id/tentang-kami/
https://degilzine.com/2018/04/02/ali-sadikin-dan-fungsi-negara-bagi-seniman/
https://www.kompasiana.com/jurnalgemini/55118bf5813311f64bbc62dd/awal-abang-none-jakarta-dan-awal-gaya-hidup-metropolitan-1968-1971