Queen of the East
Alwi Shahab
Queen of the East
Penerbit: Republik
Tahun Terbit: 2002
Tebal: 190 halaman

Alwi Sahab adalah salah satu penulis dan jurnal Indonesia yang banyak juga menulis tentang orang Betawi, ada beberapa bukunya yang cukup popular dengan orang Betawi misalnya Saudagar Bagdad dari Betawi, Robin Hood Betawi dan Queen of the East. Ini adalah beberapa karya yang ditulis oleh Alwi Sahab tentang Betawi. Dalam buku “Queen of the East” sang penulis ingin menuangkan cerita-cerita nostalgia orang Betawi zaman dahulu.

Buku Queen of the East merupakan buku kumpulan cerita dari penulis tentang orang Betawi di zaman kolonial, perlawanan hingga cerita-cerita menarik lainnya dan rata-rata bercerita tentang Batavia (Jakarta). Disajikan dengan cerita sederhana dan mudah dimengerti oleh pembaca menjadi daya tarik tersendiri untuk terus membaca karya-karya dari Alwi Shahab.

Buku ini mencoba menggambarkan bagaimana sejarah Batavia berubah menjadi Jakarta, para jawara di masing-masing kampung, hingga pemberontakan setiap kampung terhadap Belanda. Di halaman 64 dengan judul “Condet dan Pemberontakan H Entong Gendut”. H Entong Gendut adalah jawara yang berasal dari kampung Condet, sebagai jawara di kampung tersebut sudah tentunya menjaga kampungnya dari serangan apapun termasuk dari tentara Belanda. Dengan prinsip yang kuat H Entong menolak penawaran kerja sama dari Belanda sehingga dia meninggal ditembak oleh tentara Belanda.

Condet merupakan salah satu kampung yang masih mempertahankan tradisi-tradisi Betawi. Menurut Alwi dalam buku ini dijelaskan bahwa kampung Condet bisa kita temukan rumah-rumah Si Doel di film “si Doel Anak Sekolahan”, walaupun tidak banyak seperti dulu lagi, gaya bicara yang ceplas-ceplos yang menggambarkan anak Betawi. Condet merupakan kampung yang sangat kental dengan keBetawiannya sehingga pada tahun 1976 Gubernur Ali Sadikin menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Budaya Betawi. Salah satu tradisi yang kelihatannya paling alot menghadapi serbuan modernisasi adalah kehidupan keagamaan yang sangat kental. Kegiatan keagamaan yang berkembang di Condet sampai saat ini masih terjaga dengan baik.

Selain itu yang menarik dalam tulisan di buku ini, dikatakan bahwa sekitar 30 tahun yang lalu warga Betawi kemudian “terusir” karena pengembangan pembangunan yang melenceng sebab Kuningan –pada saat Gubernur Ali Sadikin– ingin dijadikan sebagai student centre akan tetapi kini berubah dari konsep awalnya sehingga banyak warganya harus mencari tempat tinggal yang lain. Tidak lupa juga digambarkan bagaimana warga Betawi pada saat itu sangat senang menonton film Mesir, India dan beberapa film lainnya tidak lain untuk melihat lagu-lagu dalam film itu untuk dijadikan referensi pembuatan lagu-lagu kasidah versi masyarakat Betawi sendiri.

 

(Sukran Ichsan)