Kampung Condet
01.04.2021
Situs

Ondet, atau ondeh, atau ondeh–ondeh, adalah sebuah nama pohon –nama ilmiahnya Antidesma diandrum Sprg., termasuk famili Antidesmaeae (Fillet, 1888:128)–, semacam pohon buni, yang buahnya bisa dimakan.

Data tertulis pertama yang menyinggung–nyinggung Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeeck, waktu masih menjadi Direktur Jenderal VOC di Batavia (sebelum menjadi Gubernur Jendral). Dalam catatan tersebut, pada tanggal 24 September 1709 Van Riebeck beserta rombongannya berjalan melalui anak sungai Ci Ondet “Over mijin lant Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, Sringsing naar het hooft van de spruijt Tsji Ondet,..” (De Haan 1911: 320).

Keterangan kedua terdapat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya dari Banten, yang dibuat sebelum berangkat ke pembuangan di Nagapatman, disahkan oleh Notaris Reguleth tertanggal 25 April 1716. Dalam surat wasiat itu antara lain tertulis, bahwa Pangeran Purbaya menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak–anak dan istrinya yang ditinggalkan (De Haan, 1920:250).
Keterangan ketiga adalah Resolusi pimpinan Kompeni di Batavia tertanggal 8 Juni 1753, yaitu keputusan tentang penjualan tanah di Condet seluas 816 morgen (52.530 ha), seharga 800 ringgit kepada Frederik Willem Freijer. Kemudian kawasan Condet menjadi bagian dari tanah partikelir Tandjong Oost, atau Groeneveld (De Haan 1910:51).

Pada abad ke-18 tersebut, Condet disebut orang Belanda sebagai Groneveld yang berarti tanah atau lahan yang hijau. Nama itu muncul dari lingkungan sekitar yang masih dipenuhi pohon dan rambut hijau yang luas bagai permadani hijau di kaki langit. Pemberian nama Groeneveld ini tidak terlepas dari ide Johannes Jacobus Craan sebagai pemilik ketiga Landhuis –rumah peristirahatan– Tandjong Oost dengan sebutan Landhuis Groeneveld.

Etnis Condet
Dalam catatan Sejarah Banten (1953) etnis Banten, Mataram dan Makassar memiliki peran dalam kesejarahan orang Condet. Ketiga etnis itu merupakan bagian dari leluhur orang Condet. Keberadaan Pangeran Purbaya yang dalam cerita legenda disamarkan dengan nama Pangeran Geger adalah titik awal kesejarahan etnis Banten di Condet.

Pangeran Purbaya adalah putra keempat dari Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memimpin perlawanan terhadap Sultan Haji yang bekerja sama dengan VOC Belanda. Saat dalam pelariannya ia menjadikan Condet sebagai salah satu daerah persembunyian dan basis perlawanan. Di Condet, ia berkeluarga hingga meninggalkan surat wasiat berupa lahan dan hewan ternak yang diwariskan kepada anak dan isterinya. Surat waris itu disahkan oleh notaris Reguleth tertanggal 25 April 1716 sebelum pembuangannya ke Nagapatnam, Srilanka.
Keberadaan Condet sebagai basis perlawanan dan persembunyian Laskar Banten terus berlanjut pada masa Kesultanan Banten dipegang Sultan Zainul Arifin (Sultan Banten ke X: 1733-1749) menjadikan kawasan ini sebagai Ommelanden atau benteng Batavia luar kota. Penguasa sesungguhnya adalah Ratu Syarifah Fatimah, namun bersekongkol dengan VOC Belanda menggerogoti wibawa Kesultanan Banten dari dalam dan memicu konflik internal kesultanan. Ratu Syarifah Fatimah menjalin hubungan dengan Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff yang waktu itu sedang menggalakkan pembukaan area perkebunan di wilayah selatan Batavia hingga Bogor. Pertemuan keduanya pernah dilangsungkan di Gedung Groeneveld, Tandjong Oost pada 1750 dan hingga kini surat cinta mereka masih tersimpan di gedung Arsipnas. Hubungan “gelap” keduanya kandas ketika Baron Van Imhoff wafat pada bulan November di tahun yang sama.

Salak Condet
Dahulu kala Condet terkenal dengan kebun buah duku dan salak. Namun seiring dengan semakin banyaknya penduduk, kebun-kebun duku dan kebun-kebun salak berubah menjadi pemukiman penduduk.
Condet sendiri merupakan daerah di Kecamatan Kramat Jati, yang terdiri dari 3 kelurahan, yaitu Batuampar, Balekambang, dan Kampung Gedung.
Berdasarkan keputusan Gubernur Nomor 1796 Tahun 1989, Salak Condet ditetapkan menjadi maskot Jakarta Indonesia ini bersama dengan Elang Bondol yang habitatnya telah hampir punah di Jakarta dan masih bertahan di pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu seperti di Pulau Kotok dan Pulau Pramuka.
Beruntung pula bagi salak Condet, di wilayah Jalan Kayu Manis, RT 7/5, Kelurahan Balekambang, Condet, Jakarta Timur masih dapat ditemui Kebun Cagar Buah Condet sebagai lahan konservasi buah yang memiliki nama ilmiah Salacca Zalacca itu. Dulu, kawasan itu diketahui memang merupakan sentra buah salak dan beberapa jenis buah tropis lainnya. Bahkan, nyaris setiap keluarga yang tinggal di kawasan ini memiliki “kebun” salak di pekarangan rumahnya.

Cagar Budaya
Pada masa Gubernur Ali Sadikin, Condet juga pernah dijadikan sebagai kawasan cagar budaya masyarakat Betawi. Selama kepemimpinan Ali Sadikin, Condet menjelma jadi kawasan yang maju. Namun di era gubernur berikutnya tidak berlanjut, karena seiring dengan semakin banyaknya masyarakat pendatang, proporsi masyarakat Betawi di kawasan ini juga semakin berkurang.
Kini, kawasan condet terdapat banyak warga keturunan Arab. Memasuki kawasan Condet dari Kramat Jati setelah melewati tempat peribadatan Al-Hawi, menanti sederetan pertokoan dan penjual busana muslim menawarkan produk barang dari Tanah Suci termasuk air zamzam, kacang arab, kurma dan lainnya. Selain itu banyak terdapat juga toko-toko penjual minyak wangi dan rumah makan yang menyediakan masakan Timur Tengah, seperti nasi kebuli dan nasi mandhi.
Warga Condet cukup dekat dengan tradisi-tradisi Arab, khususnya ajaran yang dikembangkan dari Hadramaut, Yaman Selatan, seperti acara Maulid Nabi. Imigran dari Hadramaut berdatangan ke Nusantara pada abad ke-19. Ini terjadi seiring dengan mulai beroperasinya kapal uap yang menggantikan kapal layar, hingga pelayaran lebih cepat dan aman.
Hingga kini, kawasan Condet menjadi tempat yang cukup religius, terutama bagi umat Islam. Meski begitu beberapa tokoh dan warga asli Betawi setempat masih menginginkan kawasan Condet menjadi khas kultur Betawi dan menjadi kawasan cagar budaya Betawi kembali, bukan menjadi Kampung Arab.

“Untuk mengejar persyaratan sebagai kota metropolitan pembangunan tidak perlu melenyapkan nilai-nilai lama yang telah ada. Planologi mesti memperkatikkan nilai sosio-kultural. Kalau tidak, maka hasil pembangunan yang kita capai tidaklah berakar pada bumi di mana kita berpijak.”
(Sambutan Ali Sadikin dalam buku ”Condet Cagar Budaya Betawi” karya Ran Ramelan)

 

Sumber Pustaka:
Zaenuddin H.M, “212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe” (2012).
Alwi Shahab, “Kisah Cinta di Balik Terbentuknya Wilayah Condet”, Republika (7 November 2018)
Rachmat Ruchiat, “Asal Usul Nama Tempat di Jakarta”, 2011
Gusman .J Nawi, Sejarah Jakarta, ‘Dari Ci Ondet, Groneveld sampai Condet”, https://sejarahjakarta.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Condet
https://megapolitan.okezone.com/read/2019/06/11/338/2065454/cerita-cerita-di-balik-asal-usul-kawasan-condet?page=2
https://voi.id/memori/1696/di-mana-condet-yang-hijau-berbudaya-dan-menghidupi
https://tirto.id/efp4
https://www.ayojakarta.com/read/2019/07/14/2303/salak-condet-ikon-ibu-kota-yang-kini-sulit-dinikmati
https://www.youtube.com/watch?v=AfsapkL9CBM