Lenong
11.27.2020
Teater

Sejarah Lenong

“Cikal bakal lenong dimulai sejak pertengahan 1920-an dalam bentuk seni pertunjukan rakyat jalanan. Lenong merupakan proses teaterisasi dari perkembangan musik gambang kromong, yang kemudian ditambah unsure ”bodoran” berupa lawak tanpa rangka plot cerita. Rangkaian lawak tanpa plot cerita itu selanjutnya mengalami penambahan ”banyolan-banyolan” pendek yang terdiri dari beberapa adegan sehingga merupakan lakon yang belum utuh. Dalam pertunjukan semalam suntuk, kesenian lenong ini berhasil membawakan lakon panjang yang terdiri dari puluhan adegan merupakan lakon utuh dan selesai.”
James Dananjaja (1991:1-2)*

Lenong yang dikenal saat ini merupakan perpaduan antara kesenian Gambang Kromong dengan lawakan, atau disebut pula teaterisasi dari Gambang Kromong. Kata ‘Lenong’ konon diambil dari nama seorang pedagang Cina yang bernama Lien Ong. Menurut cerita rakyat, Lien Ong ini yang biasa menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya. Lenong Betawi berkembang, paling tidak sejak awal abad ke-20. Sementara kesenian Gambang kromong yang menginspirasi Lenong sudah dikenal sejak 1920-an. 

Lenong adalah seni teater rakyat atau pertunjukan rakyat dari Betawi. Dilihat sejarahnya berasal dari Cina. Lenong biasa dilengkapi dengan dekor yang disesuaikan dengan babak cerita. Pertunjukan dimulai dengan musik gambang kromong dengan lagu-lagu khas betawi seperti Jali-jali, Persi, Stambul, Cente Manis, Balok, dan lain sebagainya. 

Cerita lakon biasanya berkisar tentang kerajaan. Seni lenong biasa disebut juga dengan Lenong Denes dan Lenong Preman. Lenong Denes biasanya menyajikan cerita kerajaan (bangsawan) yang bajunya mewah, perabot mewah. Sedangkan Lenong Preman berkisar kehidupan sehari-hari yang mengisahkan jagoan, tuan tanah, drama rumah tangga dll. 

Pertunjukan Lenong Betawi ada 4 (empat) bagian yakni teknis pementasan, meliputi: penyutradaraan, plot, struktur, sifat cerita. Kedua bentuk pementasan meliputi selingan, warung kopi, mencakup dialog dan monolog, musik, nyanyi, tari dan lain-lain. Ketiga, tata pentas yang terbagi dalam panggung, dekorasi, kostum, dan alat musik. Ke-empat, membicarakan struktur organisasi dan keuangan. 

Pementasan Lenong Betawi meliputi pembukaan, hiburan, lakon dan cerita. Acara pembukaan diisi dengan lagu-lagu irama gambang kromong pada pukul 21.30. Pementasan lenong baru dimulai pukul 22.00 dan berakhir saat sebelum adzan Subuh. 

Alur cerita dibagi 3 pokok yakni drip pertama merupakan pendahuluan yang akan mengantarkan cerita, drip kedua merupakan pertemuan dua kelompok yang bermasalah dan drip ketiga merupakan pemecahan masalah. Adapun anggota semuanya terdiri dari panjak (pemain lenong), ronggeng (penari), bador, pemusik, pendekar dan sutradara. 

Adapun fungsi sosial Lenong Betawi adalah sebagai sarana hiburan dan sekaligus pendidikan pada masyarakat. 

Lenong Preman

Lenong Preman merupakan suatu pertunjukan yang memungkinkan terciptanya komunikasi dua arah antara pelakon dan penontonnya. 

Bahasa Betawi yang dipergunakan dalam lenong ini turut menciptakan suasana keakraban dan cairnya pembatasan antara pelakon dan penonton. Dialog dalam lakon biasanya bersifat polos dan spontan, sehingga menimbulkan kesan kasar, kurang sopan dan bahkan porno. Karena cerita yang dibawakan masalah sehari-hari, kostum yang digunakannya pun pakaian sehari-hari. Lenong Preman banyak menampilkan adegan laga atau action. Para pemain Lenong pun kebanyakan mahir bermain silat. Aliran silat yang umurnnya dikuasai pemain Lenong Preman adalah aliran silat Bekasi. Misalnya aliran silat Cimande, Cikalong, Kelabang Nyebrang, atau Cingkrik Lenong Preman tersebar di berbagai daerah di wilayah budaya Betawi, seperti di beberapa tempat di wilayah DKI Jakarta, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang. Beberapa rombongan lenong preman antara lain lenong preman, “Gaya Baru”, di Gunung Sindur, milik Liem Kim Song, “Setia kawan” di Teluk Gong milik Nio Hok san, “Tiga Saudara” di Mauk, Tangerang, milik Pak Ayon, “Sinar Subur” di Bojongsari, milik Asmin. (Dinas Kebudayaan dan Permuseuman propinsi DKI Jakarta, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003)

Lenong Denes
Lenong Denes merupakan pertunjukan teater yang berisi cerita mengenai dinamika pemerintahan yang saat itu dipegang oleh penjajah. Gaya bahasa yang digunakan cenderung halus, seperti Saya, Anda, Tuan, dsb. Dialognya pun sebagian besar dinyanyikan. Hal ini berbeda dengan jenis Lenong Preman yang lebih banyak menggunakan bahasa Betawi. Akibatnya, dalam lenong Denes, para pemainnya sulit mengekspresikan humor. Agar pertunjukan bisa lucu, maka ditampilkan tokoh dayang atau khadam (pembantu) yang menggunakan bahasa Betawi. Adegan-adegan perkelahian dalam Lenong Denes tidak menampilkan silat, tetapi tinju, gulat, dan main anggar (pedang). Lenong Denes terkesan lebih elitis daripada Lenong Preman. Lenong Denes diasumsikan berdasarkan sudut pandang golongan menengah atas.

Panggung Pertunjukan

Karena Lenong Denes biasa digelar di suatu tempat pemerintahan, maka cenderung lebih eksklusif dibanding Lenong Preman, yaitu menggunakan panggung dan kelengkapan pertunjukan saat itu. Contoh cerita: Nyai Dasima, cerita rakyat tentang nama suatu tempat, dan lain lain. Mengacu pada website Lembaga Kesenian Betawi, disebutkan bahwa Lenong Denes menggunakan panggung berukuran 5 x 7 meter. Panggung ini didekor dengan baik. Penggunaan dekor atau seben untuk menyatakan susunan adegan-adegan. Misal ada dekor singgasana, taman sari, hutan, dan sebagainya. 

Musik pengiring Lenong Denes adalah gambang kromong. Dalam adegan perkelahian alat musik pengiringnya ditambah dengan tambur. Adapun lakon yang ditampilkan adalah seputar cerita-cerita kerajaan seperti: Indra Bangsawan, Jula-Juli Bintang Tujuh, Danur Wulan, dan cerita-cerita yang diambil dari Cerita 1001 Malam. Perbedaan yang paling jelas terlihat antara Lenong Denes dengan Lenong Preman adalah jenis pakaian atau kostum yang digunakan. Busana yang dipakai oleh tokoh-tokoh dalam Lenong Denes biasanya sangat gemerlapan seperti halnya raja, bangsawan, pangeran, putri, hulubalang. Hal ini tentu berbeda dengan Lenong Preman, dimana busana yang digunakan cenderung busana sehari-hari yang biasa dijumpai. Dari perbedaan-perbedaan yang ada dapat dilihat bahwa Lenong Preman lebih merakyat dan mampu diterima oleh banyak kalangan. Lenong Denes justru mampu bertahan di masa Pemerintahan Belanda karena isinya yang cenderung elitis dan tidak konfrontatif terhadap penguasa. Kondisi bertolak belakang pada saat ini, dimana Lenong Denes lebih sulit untuk bertahan, bahkan ada kecenderungan bahwa pemain lenong muda merasa asing dengan konsep yang diusung Lenong Denes.


 

Sumber
https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=291